Menyambut LukaKU

Sering kali aku berpikir, Bila semua manusia pasti mengalami luka dengan takaran yang berbeda-beda bagi setiap individunya, namun mengapa aku tidak pernah diajarkan untuk menyambut luka yang datang. Seperti hotel yang selalu siap menyambut setiap tamu yang datang berkunjung dan kerelaan melepaskan setiap tamu yang pergi. Lantas apa yang perlu aku lakukan untuk menyambut lukaku?

Aku sadar bahwa aku pun memiliki luka. Entah luka yang ada tercipta di masa lalu atau luka yang baru tercipta. Harus aku akui bahwa aku terlatih untuk tidak mau menyadari bahwa aku sedang terluka dan mengakui bahwa aku terluka. Atau bisa jadi aku tahu aku terluka namun luka itu tidak aku obati. Aku hanya menjajakannya di pinggir jalan berharap ada yang mengobatinya. Aku salah, luka itu bukannya sembuh, namun berakhir semakin parah, membusuk dan berbau busuk hingga mengganggu lingkungan sekitar.

Lalu bagaimana caranya menyambut lukaku agar luka itu tidak berakhir dengan keparahan yang mendarah daging?

Hal sederhana yang aku lakukan untuk menyambut lukaku adalah mengakui bahwa aku sedang terluka dan merasakannya. Awalnya sulit, itu sudah pasti apalagi untuk diriku yang belum terbiasa mengakui keberadaannya. Contohnya saja seperti ini,

Aku tidak menyukai pacarnya Indra (adikku). Aku membencinya dan aku mengakui itu. Aku bertanya-tanya apa yang membuatku begitu sangat membencinya? Karma hidup seperti apa yang terjadi antara aku dengan manusia itu (caraku menyebutkan pacar adikku) pada kehidupan ku sebelumnya? Ajaran apa yang sedang diajarkan Semesta padaku melalui manusia itu? Lalu mengapa harus melalui manusia itu? Berbulan-bulan tak kutemukan jawabannya. Lebih tepatnya aku tidak pernah benar-benar berusaha mencari tahunya. Hingga suatu malam, Semesta menjedotkan diriku keliang yang membuatku tak bisa lari atau menghilang.

Dalam gelap malam yang semakin gelap, Aku menangis hanya karena sebuah lagu (judulnya Thank you-Ho’oponopono). Ku rasakan tubuhku yang merintih kesakitan entah dari mana asalnya. Tubuhku bergetar. Ku buka pintu kamarku, dan ku peluk kakakku yang saat itu sedang menonton sendiri. Aku menangis dilengannya dan memintanya diam, menungguku untuk siap berkata. Setelah aku puas menangis dan setelah ku pastikan bahwa suaraku telah kembali, barulah aku berkata, “Adik itu bukan kakak yang baik untuk Indra.” Kakakku hanya diam, membiarkanku memuntahkan semua rasa benciku, ketidaksukaanku. Setelah itu, aku tertawa sendiri. Aku temukan diriku yang sedang merasa iri dan serakah. Oh ini toh iri hati ternyata aku punya toh perasaan itu. Ternyata ingin mendapatkan semuanya itu serakah. Bahkan ingin mendapatkan seluruh cinta dari semua orang itu juga serakah toh. Tawaku makin menjadi mengamati diriku yang sedang merasa serakah. Ku katakan pada diriku, “Okay kita bersahabat yang serakah. Kita bersahabat ya Iri.”

Begitulah CARA MENYAMBUT LUKAKU yang aku lakukan. Mengakui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja dan aku sedang terluka, bertemu dengan luka itu, dan memeluk luka dengan cara bersahabat dengannya. Mengakui luka berarti bersedia untuk merasakan sakit sampai sakit itu tidak terasa lagi. Satu hal yang aku tahu pasti, “Ketika aku bersedia menyambut luka dengan tangan terbuka dan memeluk diriku yang terluka, lukaku bukan lagi menjadi luka, melainkan menjadi GURU RAHASIA yang sedang mengajarkan ajaran rahasia.”

Bila gagal belajar dari luka, jangan heran bila luka yang sama akan datang berkunjung lagi, lagi dan lagi.

Selamat belajar Murid Kehidupan

Selamat bertumbuh jiwa-jiwa yang indah

NAMASTE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *