Berpura-pura Ikhlas

Tentang ikhlasku.

Setelah berkelana mencoba-coba, aku menemukan tempat yang mengajariku bagaimana caranya ikhlas. Sering aku belajar untuk ikhlas, mulai dari saat uangku yang bernilai besar hilang, benda-benda kesayanganku rusak ditangan orang lain atau ketika nenek tersayangku meninggal. Aku mengusap dada seraya berkata dalam hati

“udah.. udah.. ikhlas dong gak baik kalo gak ikhlas”

“jangan nangis, kalo nangis keliatan nti gak ikhlasnya. Katanya mau belajar ikhlas”

“ikhlas ya hati ya, ikhlas”

Kalimat itu yang sering aku dendangkan dalam hati seraya berharap hati ku akan merasa plong dan terlabeli ikhlas.

” Aku ikhlas kok. Bener”

” Aku udah gak mikir itu kok”

Namun saat duduk sendiri, aku memikirkan kembali uangku yang hilang sembari menyalahkan diri.

” Duh kamu ini ceroboh sekali sih. Kamu ini bego banget yaa kok kamu bisa hilangin uang sih? sekarang gak ada uang kan”

Atau memikirkan benda kesayangan yang telah rusak ditangan orang lain.

“kamu kenapa kasih pinjam dia”

“dasar, emang yaa gak tau diri banget sih minjem barang orang.. huhu~”

” kenapa aku gak minta dan sok-sok-an kayak gini sih, yah bego”

Dan penyesalan terbesar ketika nenek tercinta pergi tanpa aku disisinya. Tanpa aku melihat tubuh nya. Mengantar ia ke peristirahatan terakhir. Tempat tidur abadi jasadnya.

Aku menangis setiap memikirkan itu.

Kemudian, aku sadar bahwa hanya lisanku yang berucap, sementara hati dan pikiranku benar-benar belum ikhlas. Menyembunyikan rasa. Atau bisa kubilang, aku berpura-pura ikhlas.

Yaps, aku berpura-pura. Kupikir dengan cara itu hatiku akan ikut ikhlas. Tapi aku lupa ini hanya pura-pura. Kapan saja tembok kepura-puraan itu bisa runtuh. Topeng itu akan rapuh. Kemudian terbongkarlah kebenarannya. Dan aku sakit sendiri atas kepura-puraan ini. Menjadi toxic pikiran untuk kemudian menyalahkan diri.

Sakit ya ? Iya sakit.

Dan aku memilih untuk tidak melakukan itu lagi. Aku mencari cara yang benar-benar mengajarkan ku untuk ikhlas. Dan Allah memberi jawaban dengan cara-Nya.

Untuk bertemu dengan jawaban itu, aku harus merasakan sakit teramat dalam yang tidak biasa sejak masa hidupku 18 tahun 11 bulan.

Masa hidup yang aku rasa biasa saja, tetap saja ada masalah tetapi masih bisa aku tangani. Dan saat “luka” itu ada, rasanya tidak biasa. Masa-masa rumit harus ku lewati sendiri. Karena aku sembunyi, lagi.

Aku senang berpura-pura baik-baik saja, jangan diikuti ya.

Dan tiba masa dimana sesak ini tidak berhenti dan sakit. Aku mencari-cari. Mencari jawaban seraya berdoa pada Allah untuk segera mengakhiri rasa ini.

Dan sampailah aku disini. Rumah berbagi.

Harus kuakui, ini adalah proses healing pertamaku. Dengan teman2, ka putu, ka yuni dan ka sustri. Untuk pertama kali aku berani mengungkapkan ini lah aku ke orang asing.

Mengapa seberani itu ?

Karena mereka memberi energi. Ku sebut itu energi cinta yang kuat.

Aku merasa melewati masa healing yang sakit. Disaat aku benar-benar ingin menolak rasa. Aku diminta untuk merasakan segala rasa yang ada. Aku diminta menikmati rasa sakitnya. Wah, aku sudah capek merasakan sakit selama 3 bulan. Dan aku diminta untuk menikmatinya ?

Capeklah aku. Sangat.

Pikirku akan cepat seperti mementikan jari. Simsalabim.

Atau ala-ala Romy rafael. Lihat ini dan tidur kemudian taraaaaa aku kembali menjadi ceria.

Tidak. Kalau seperti itu, aku berubah bukan karena kekuatan ku sendiri. Ya, nikmati saja. Kuserahkan pada Allah. Sudah kupasrahkan saja kepada ka putu dan ka sustri. Pikirku

“sudah, jalan saja. Kamu sudah sakit. Kalaupun disakiti lagi ya sekalian saja”

Aku diajar memeluk rasa sakit itu. Menerimanya, dengan apa adanya.

” Ya, aku kecewa. Ya, aku sedang sedih, aku sedang marah, aku sangat terluka, aku merasa tidak berguna, aku memalukan. Kamu hilang saja “

Aku nikmati dengan derai air mata serta sesak yang tak kunjung berhenti.

Aku belajar memeluk mereka.

Mengenal satu persatu perasaan-perasaan itu. Dengan bantuan mereka tentunya.

Percaya atau tidak. Setelah aku menerima mereka, aku tidak merasa tekanan dalam dada. Seperti kalau kamu marah, ada sesuatu yang tertahan di dada. Reda. Hanya sedih, tapi tak ada ganjalannya. Sedih yang mengalir lancar.

Kemudian, aku dituntun untuk memaafkan. Pelan-pelan.

Ini adalah masa sedih yang bahagia. Ya, sangat indah. Indah sekali. Memaafkan memang tak mudah. Tapi, memaafkan yang ini bukan maaf yang dipaksa. Seperti yang kubilang, maaf yang ini mengalir lancar lagi. Menenangkan.

Bukan berarti, setelah merasa tenang dan damai. Aku selesai.

Buku-buku disana disodorkan untuk ku baca. Belajar. Lagi dan lagi. Belajar yang dituntun. Bukan disuap apalagi dibiarkan.

Aku membaca tentang cinta. Cinta yang melepaskan. Dan aku harus belajar untuk melakukannya.

Ketika orang tersayang ku pergi untuk selamanya. Aku tahu tidak akan ada yang berubah. Sudah jadi takdir Allah. Takdir Tuhan yang tidak dapat diubah oleh manusia dan makhluk lainnya. Dan aku belajar lagi menerima. Menerima rasa.

Bukan berarti setelah melalui masa sulit. Aku tidak akan menangis dan menjadi lebih tegar.

Aku tetap manusia.

Aku menangis. Menangis sedih karena ini terakhir kali aku memandang jasadnya.

Ku bisikkan terimakasih. Tugasmu di dunia telah usai. Dan aku masih disini, menunggu giliran sampai tugasku selesai.

Sedih. Dan tenang.

Sedih. Dan bahagia.

Sedih. Dan aku menyambut ia pergi.

Nikmat sekali.

Aku berterima kasih pada Allah yang telah memberiku kesempatan belajar tentang semua ini. Aku percaya, Allah SWT yang telah mengirim mereka kepadaku untuk kembali belajar.

Terima kasih juga kepada orang-orang yang telah mengajariku nilai-nilai. Aku merasa tertolong karena sebelumnya tak ada bayangan akan terjadi hal seperti ini.

Dan sehari-hari, kadang aku merindu.

Namun, kata seorang teman itu tak mengapa. Karena rindu adalah rasa yang dititipkan untuk kita rasakan. Dan bahwasanya rindu pada seseorang adalah rasa peduli terhadap orang itu.

Salam cinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *